KONSEP GENDER

Konsep GENDER
Pengertian Gender
 melihat perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi
karakteristik, sikap dan perilaku masing-masing
dalam konteks sosial budaya, berbeda dengan seks yang
hanya melihat perbedaan tersebut dari sudut jenis
kelamin saja.
 konstruksi sosial yang membedakan peran dan
kedudukan laki-laki dan perempuan dalam suatu
masyarakat yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya.
 konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung
jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari
dan dapat berubah oleh keadaan sosial budaya
masyarakat.
Gender berbeda dengan Sex:
Gender:
 Karena Sosial
 Tidak universal/tidak sama
dimana saja
 Dapat dipertukarkan
 Dinamis
 Bergantung
 Bukan kodrat
Sex :
 Karena beda Biologis
 Universal/Sama dimana saja
 Tidak dpt dipertukarkan
 Statis
 Tidak Tergantung masa
 Kodrat5
Stereotipe
Pelabelan laki-laki dan perempuan
berdasarkan karakteristik tertentu pada
suatu masyarakat
Laki-laki: Perempuan:
– maskulin – feminim
– rasional – emosional
– tegas/kasar – lemah lembut
– ceroboh – teliti
– ……… – ………..Siapa yang sering disalahkan??7
Gender tidak jadi masalah
 Jika :
 dilakukan secara adil
 menguntungkan kedua belah pihak8
Gender jadi masalah
 Jika:
 terjadi ketimpangan
 satu pihak dirugikan
 satu jenis kelamin dibedakan derajatnya
 satu jenis kelamin dianggap tidak mampu
 satu jenis kelamin diperlakukan lebih rendah
 satu jenis kelamin mengalami ketidakadilan
gender9
Kesetaraan dan keadilan gender
 Kesetaraan gender adalah:
kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan
untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya
sebagai manusia agar mampu berperan dan
berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi,
sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan
kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan
tersebut.
 Keadilan gender adalah :
suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki
dan perempuan 10
Dikatakan adil/setara Gender:
 Jika:
> Terdapat pembagian kerja/peran laki-laki dan
perempuan sesuai dengan harkat dan martabatnya
dalam hal:
akses (peluang)
partisipasi
kontrol – keputusan atas diri sendiri
mengambil manfaat 11
Ketidakadilan gender
 Ketidakadilan gender adalah :
berbagai tindak ketidakadilan atau diskriminasi
yang bersumber pada keyakinan gender
 Diskriminasi berarti:
setiap pembedaan, pengucilan, atau pembatasan
yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang
mempunyai tujuan mengurangi atau menghapus
pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak
asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di
bidang politik, ekonomi, dll oleh perempuan,
terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar
persamaan antara perempuan dan laki-laki12
Penyebab Kesenjangan Gender:
 Budaya (kawin muda, pencari nafkah dll)
 Rendahnya komitmen
 Sensitifitas gender pada pengambil kebijakan
 lemahnya civil society
 kebijakan
 ekonomi-kemiskinan
 interpretasi agama
 keyakinan gender (kepantasan dll)
 sarana dan prasarana
 geografis
 beban ganda
 pendidikan tidak menjanjikan13
Ketidakadilan Gender terjadi di:
 Negara
 Masyarakat
 Budaya/keyakinan
 Tempat kerja
 Rumahtangga
 Keyakinan pribadi14
Contoh kaitan keyakinan gender dg ketidakadilan
gender
Keyakinan Gender
Bentuk Ketidakadilan
Gender
Perempuan: lembut dan bersifat
emosional
Tidak boleh menjadi manajer
atau pemimpin sebuah institusi
Perempuan: pekerjaan
utamanya di rumah dan kalau
bekerja hanya membantu suami
(tambahan)
Dibayar lebih rendah dan tidak
perlu kedudukan yang
tinggi/penting
Lelaki: berwatak tegas dan
rasional
Cocok menjadi pemimpin dan
tidak pantas kerja di rumah dan
memasak15
Peran Perempuan/laki-laki:
 Peran seks
 Peran Jender:
Reproduksi
Mencari nafkah
Kegiatan Sosial
Bagaimana perbandingan antara L dan P ? 16
Kebutuhan Gender:
 Kebutuhan Spesifik/seks : sesuai ciri
biologis
 Pembalut, bH dll
 Peran jender:
 wanita pekerja malam butuh
transport,keamanan17
Kebutuhan Gender:
 Taktis : jangka pendek
 kebutuhan spesifik/gender
 Strategis : jangka panjang
 kebutuhan menuju kesetaraan18
Kebutuhan Perempuan
Terdapat 4 kebutuhan dasar perempuan:
 pendidikan,
 kesehatan,
 pangan & gizi,
 perumahan dan lingkungan hidup
(hasil Konverensi Beijing (1995)19
Kesetaraan Gender dalam
bidang Kesehatan:
 Laki-laki & perempuan memiliki akses dan kontrol yang
setara dalam bidang kesehatan
 Laki-laki & perempuan memiliki kontrol/ keputusan atas
diri sendiri yang setara dalam bidang kesehatan
 Laki-laki & perempuan memiliki kesempatan yang setara
dalam partisipasi di bidang kesehatan
 Laki-laki & perempuan memiliki kesempatan yang setara
untuk memperoleh manfaat di bidang kesehatan20
Indikator Kesetaraan Gender
dalam bidang kesehatan:
1. Pelayanan Kesehatan – (kunjungan perempuan
ke pelayanan kesehatan, dan pelayanan antenatal
(5 T) dan persalinan).
2. Pola Morbiditas dan morbiditas
3. Imunisasi dan Status Gizi Balita
4. Pengetahuan dan Penderita HIV/AIDS
5. Fertilitas dan Keluarga Berencana21
Isu Kesenjangan Gender terkait
dengan:
1. Akses dan pemerataan:
 under participation
2. Mutu dan relevansi:
 under achievement
3. Manajemen:
 under representation
 unfair treatment22
Dimensi kesenjangan jender:
1) Kurangnya partisipasi (under participation)
 perempuan di seluruh dunia menghadapi problema yang
sama, partisipasi perempuan dalam pendidikan formal DI
BIDANG KESEHATAN jauh lebih rendah dibanding
laki-laki.
 murid perempuan yg tidak meneruskan pendidikan ke
tingkat lanjutan jauh lbh besar dibanding laki-laki.
 Alasan pengunduran diri murid perempuan umumnya
adalah jarak sekolah yg jauh dari tempat tinggal, tuntutan
tugas domestik, tidak ada biaya, tidak diijinkan orang tua,
dikawinkan.
 Pada tingkat pendidikan PT, partisipasi perempuan sangat
rendah dan umumnya terbatas pada bidang-bidang ilmu
sosial, humaniora, pendidikan, biologi, kimia dan farmasi. 23
2) Kurangnya prestasi (under achievement)
 Data penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa
pada tingkat dasar prestasi murid perempuan pada
umumnya setara, bahkan terkadang lebih baik
dibanding murid laki-laki.
 Namun setelah lepas sekolah dasar prestasi tersebut
cenderung menurun tajam, terutama untuk subyek yang
berkaitan dengan sains dan teknologi.
 Banyak murid perempuan yang sebenarnya cukup
berbakat urung memilih bidang sains dan teknologi
pada pendidikan tingkat lanjutan.
 Citra maskulin sains dan teknologi menyebabkan para
remaja putri yang sedang giat membentuk identitas
feminimnya, bersikap menghindar terhadap subyek
tersebut.24
3) Kurangnya keterwakilan (under representation)
 Partisipasi perempuan sebagai tenaga ahli maupun
pimpinan menunjukkan kecenderungan disparitas
progresif.
 Jumlah guru perempuan pada tahap pendidikan dasar
umumnya sama atau melebihi jumlah tenaga guru lakilaki, namun pada tahap pendidikan lanjutan dan
pendidikan tinggi, jumlah tersebut menunjukkan
penurunan yang drastis.
 Representasi tenaga perempuan dalam administrasi
pendidikan, pengambilan keputusan dan penyusunan
kurikulum sangat rendah, sehingga kepentingan murid
perempuan kadang kurang mendapat perhatian.
 Kurikulum dan metoda belajar mengajar cenderung
“androsentrik” dengan acuan “man-as-the-norm”25
4) Perlakuan yang tidak adil (unfair treatment)
 Kegiatan pembelajaran dan proses interaksi dalam kelas
seringkali bersifat merugikan murid perempuan
 Hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan murid
pria disekolah dasar dan lanjutan ditanyai gurunya 3
hingga 8 kali lebih banyak dibanding murid perempuan.
 Kemampuan dan minat murid laki-laki (terutama
terhadap sains) terus didorong dan dibina, sementara
pengembangan kemampuan dan minat murid
perempuan terabaikan. 26
Ada tiga kemungkinan alasan rendahnya partisipasi perempuan
dalam pendidikan lebih tinggi (Suleeman,1995):
1. Tidak tersedianya sarana dan prasarana sekolah untuk jenjang
pendidikan SLTP ke atas sekitar tempat tinggal.
alasan jarak dan keselamatan selama perjalanan menuju ke
sekolah menghambat anak perempuan ke jenjang lebih tinggi.
2. Relatif tingginya biaya pendidikan dan bagi keluarga masih
miskin, biaya pendidikan tsb belum terjangkau.
para orang tua masih beranggapan bahwa lebih baik
menanamkan investasi dlm bidang pendidikan kepada anak
laki-laki dibandingkan anak perempuan
3. Adanya norma di dlm masyarakat bahwa anak perempuan lebih
diperlukan membantu orang tua di rumah, sedangkan anak lakilaki memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk membantu
menambah penghasilan keluarga.27
Jenis Kebijakan:
 Responsif gender:
 menyempitkan kesenjangan berdasarkan data
awal
 Netral gender:
 tidak mengarah
 Bias Gender:
 meningkatkan kesenjangan gender
Ada kebijakan yang netral tetapi
—-> implementasinya Bias28
Kebijakan perlu responsif
Gender:
Merespon perbedaan-perbedaan:
aspirasi/keinginan/kebutuhan
pengalaman29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s