Dasar Penyusunan Diit Pada Penyakit Kardiovaskuler

DASAR DASAR PENYUSUNAN DIIT PADA PENYAKIT KARDIOVASKULER
Satriono,M.Sc, Dr. SpA(K)
TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM:
Memahami pentingnya dukungan nutrisi pada penyakit kardiovaskuler
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1.Menyebutkan Faktor-faktor baca selengkapnya risiko makanan dengan cara major terhadap timbulnya penyakit
jantung koroner
2.Menyebutkan Faktor-faktor risiko makanan dengan cara minor terhadap timbulnya penyakit
jantung koroner
3.Menyebutkan faktor-faktor makanan / gizi terhadap kadar kokesterol darah dan timbulnya
penyakit jantung koroner
4.Menyebutkan prinsip dasar Pengelolaan Diitetik penyakit jantung koroner.
5.Menjelaskan peranan mineral Natrium terhadap penyakit hipertensi.
6.Menyebutkan prinsip dasar Pengelolaan Diitetik penyakit hipertensi
7.Menyebutkan prinsip dasar Pengelolaan Diitetik penyakit Kegagalan Jantung (Cardiac
Failure=Decompensatio Cordis)
8.Menyebutkan tujuan, sayarat-syarat,indikasi Diit pada penyakit jantung

Disini akan dibahas penyakit kardiovaskuler :
A.Penyakit Jantung Koroner (PJK) = Coronary Heart Disease atau Ischaemic
Heart Disease dan Arteriosclerosis.
B.Hipertensi dan Penyakit Jantung Hipertensif (=Hypertensive Cardivascular
Disease)
C.Kegagalan Jantung (Cardiac Failure)
A.Penyakit Jantung Koroner dan Artheriosclerosis
Definisi-definisi :
Artheriosklerosis : Lesi pada arteri besar dan sedang yang ditandai bercak kekuningan dari
Kolesterol; Zat2 Lipoid atau yang menyerupai Lemak pada lapisan intima arteri.
Penyakit Arteri Koroner (termasuk Fatty Streak, Fibrous Plaque) yaitu penyakit Atherosklerotik
pada dinding arteri koronari yang meliputi lapisan intima dan kadang- kadang Tunica Media
yang ditandai oleh 3 macam Lesi :
-Fatty streak , yaitu lesi tak bertangkai berwarna kuning menggambarkan penumpukan selotot
polos intima yang mengandung dan dikelilingi oleh timbunan Lemak.
-Fibrous Plaque , yaitu lesi yang menonjol berwarna putih mengandung pusat perlemakan,
sel-sel otot polos yang dikelilingi oleh Lipid, Kolagen Serat Elastik dan Proteoglikan, yang
bertindak sebagai penutup deposit Lemak Ekstraseluler dan sisa-sisa sel yang terletak
dibawahnya.2
-Lesi Komplikasi , yaitu perubahan Fibrous Plaque akibat perdarahan, nekrosis sel dan trombosis
yang mengandung Kalsifikasi.

Faktor-faktor Risiko : Istilah yang digumnakan untuk melukiskan tanda-tanda yang ditemukan
pada orang sehat yang ada hubungannya dengan timbulnya penyakit Arteri Koroner.

Prinsip-prinsip Dasar :
Di Amerika, kematian Kardiovaskuler merupakan pembunuh nomor satu sekarang ini. Di
Indonesia hal ini mulai nampak pada golongan orang berada.
Prevalensi Arterioklerosis dan Antherosklerosis akan meningkat dengan bertambah
panjangnya umur manusia. Kelainan ini akibat meningkatnya kadar kolesterol darah yang
berlangsung lama.
Kadar HDL (High Density Lipoprotein) darah yang tinggi mencegah/ mengurangi risiko terjadinya
serangan jantung, Bukti pendahuluan menyatakan, bahwa Atherosklerosis yang telah terjadi
dapat dikurangi :
1.Waktu “Turn-Over” Kolesterol nampaknya sangat lambat (442-934 hari)
2.Meskipun Kolesterol pada bercak Atherosklerotik perubahannya sangat lambat ke dalam
plasma, paling kurang regresi sebagian dari lesi Sklerotik ini nampaknya dimungkinkan.
3.Peningkatan kadar HDL bisa menginduksi regresi tersebut.
4.Masih diperlukan konfirmasi untuk regresi tsb. pada penderita yang jelas menderita penyakit
arteri koroner.
Faktor-faktor risiko makanan ikut serta baik dengan cara major atau minor
terhadap perkembangan penyakit Kardivaskuler Atherosklerotik:
1.Kadar Kolesterol serum merupakan salah satu faktor risiko major. Bahkan pada batas-batas
Kolesterol normal, makin tinggi kadarnya, makin tinggi risikonya.
2.Meskipun serangan infark jantung yang kedua kali ataupun yang berulang kali mungkin tak
perlu dicegah dengan penurunan kadar kolesterol serum, jika pernah sekali seseorang
mendapat infark jantung, maka diusahakan untuk mengurangi kadar LDL Plasma.
3.Meningkatnya risiko PJK yang berhubungan dengan Hiperkolesterolemia ini diperhebat dengan
ikut sertanya Hipertensi, mengisap rokok atau Diabetes Mellitus.
Obesitas , merupakan faktor risiko moderate (sedang) atau minor.
Obesitas biasanya disertai dengan faktor2 risiko lainnya, yaitu Diabetes Mellitus, Hipertensi,
AktivitasFisik dan meningkatnya Kolesterol, Trigliserida dan Asam urat Darah.
Diabetes dan Intoleransi Glukosa .
Di negara Barat, laki-laki Diabetik akan menderita PJK 3 kali lebih banyak, sedangkan wanita
Diabetik akan menderita PJK 5 – 6 kali daripada bukan Diabetik. Meskipun penderita DM
merupakan Predisposisi terutama penyakit Vaskuler Oklusif Perifer, tetapi pernah dilaporkan
Lesi Miokardium pada penderita DM.3
Trigliserida . Kadar Trigliserida Plasma yang meningkat merupakan faktor risiko yang lebih
lemah daripada Hiperkolesterolemia.
Risiko PJK akibat Hipertrigliseridemia lebih banyak pada laki-laki daripada wanita.
Faktor-faktor Diit :
-Pada penelitian pendahuluan ternyata bahwa pada binatang, Dietary Fiber yang berasal dari
Alfafa dapat menurunkan kadar Kolesterol Serum, sedangkan pada manusia belum jelas.
-Gula pasir diduga sebagai risiko yang mungkin untuk terjadinya PJK
-Kopi . Tidak terbukti bahwa kopi ikut serta akan terjadinya Infark Miokard, tetapi penderita yang
mempunyai kecendrungan kontraksi Jantung Prematur, sebaiknya membatasi kopi
-Alkohol . Belum ada bukti kuat bahwa Alkohol sendiri yang merupakan penyebab PJK, tetapi
ada faktor lainnya seperti Hiperlipemia. Meskipun demikian Alkohol bisa menyebabkan
Kardiomiopati dan Aritmia Jantung.
-Mineral :
Calcium dan Magnesium , defisiensi Ca dan Mg telah dihubung kan dengan penyebab PJK dan
kematian mendadak akibat penyebab Kardiovaskuler.
Dilaporkan bahwa kematian akibat penyakit jantung lebih pada tanahnya kaya akan Selenium ,
Cadmium , Chromium dan Pb , merupakan trace element yang sekarang diteliti untuk
kemungkinan penyabab PJK. Kekurangan silicon, mungkin merupakan penyebab PJK.
-Vitamin :
Vitamin E : masih belum ada kesimpulan peranan Vitamin E dapat mencegah PJK.
VitaminD : Kelebihan Vitamin D dapat meningkatkan kadar Kolesterol darah dan meningkatkan
insidens infark miokard.
Pengelolaan Diitetik PJK :
Tergantung penyebab / faktor-faktor risiko :
1.Hiperlepidemia — lihat Pokok Bahasan Hiperlipoproteinemia
2.Obesitas —- diet rendah energi
3.Diabetes Mellitus — Diit DM
4.Perhatikan faktor-faktor risiko lainnya : merokok, hipertensi, aktivitas fisik, dsb.
B.Hipertensi dan Penyakit Jantung Hipertensif 4
Hipertensi Esensial, merupakan diagnosis yang dibuat dengan cara menyingkirkan setiap
penyebab sekunder.
Hipertensi esensial meliputi spektrum luas mulai Hipertensi Labil atau Borderline sampai
Hipertensi Maligna atau Accelerated. Ia juga termasuk berbagai sub kelompok yang dapat
dikategorisasikan dengan aktivitas renin plasma dan terapinya yang bervariasi.
Hipertensi Renovaskuler, merupakan Hipertensi yang disertai atau yang disebabkan oleh
kerusakan ginjal atau gangguan fungsi ginjal.
Hipertensi merupakan faktor risiko major terjadinya PJK. Hipertensi juga menyebabkan risiko
tinggi kerusakan “target organ misalnya kegagalan jantung kongestif, kegagalan ginjal dan Stroke,
kecuali bila tekanan darah ditu runkan dengan terapi yang sesuai. Disebut Hipertensi bila
tekanan darah sistolik melebihi 160 mm dan Diastolik 95 mm hg. Tekanan darah yang
berfluktuasi dibawah dan diatas 140/90 mm Hg menandakan keadaan Hipertensi Labil atau
borderline.
Terdapat berbagai perubahan Patofisiologik yang menyertai Hipertensi Esensial Benigna.
Perubahan patologik khusus terlihat pada arteri jika terjadi hipertensi, yaitu :
-Peningkatan Kolagen pada dinding pembuluh darah arteri.
-Peningkatan serat elastik dan mukopolisakarida pada dinding pembuluh darah arteri.
-Peningkatan Natrium dan Calsium dalam dinding arteri
-Proliferasi sel-sel otot polos dinding arteri.
Semuanya ini akan menyebabkan penebalan arteri dan menyempitkan lumen arteri.
Kelainan endokrin dan metabolik dihubungkan dengan Hipertensi Esensial Beligna. Yang
paling terkenal yaitu yang berhubungan dengan sistem renin-angiotensin-aldosteron .
1.Renin,
merupakan enzim proteolitik yang mengubah prekursor glikoprotein menjadi angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II.
2.Kadar renin ini pada Hipertensi Esensial Beligna :
-meningkat (16%)
-normal (57%)
-menurun (27%)
3.Kadar Aldosteron Plasma pada umumnya paralel dengan renin.
Renin diukur sebagai aktivitas renin Plasma (ARP).
4.Pada Hipertensi Sekunder akibat kelainan Renovaskuler, ARP ini sering kali meningkat .
5.Pada Hipertensi Esensial Beligna, katekolamin plasmaNsering kali meningkat.
6.Aktivitas berlebihan sistem saraf simpatis terdapat juga pada hipertensi esensial beligna.
Natrium :
memerankan peranan sangat penting sebagai penyebab hiperetnsi esensial klinik, meskipun
demikian pembatasan garam saja, mungkin tak adekuat untuk mengendalikan tekanan darah.:5
1.Pada penderita dengan hipertensi esensial tetap, kandungan Na pada dinding arteri sangat
meningkat. Sebagian dari Na ini mudah dipertukarkan, bagian lainnya lagi terikat pada matriks
polisakarida.
2.Kebutuhan garam sehari kurang dari 1 g, bila suplai garam ( NaCl dan garam Na lainnya )
melebihinya, maka akan dikeluarkan oleh tubuh untuk mencegah penimbunannya seperti yang
terjadi pada penyakit hipertensi esensial.
3.Orang Hipertensif nampaknya berbeda dalam hal menangani kelebihan Na ini bila
dibandingkan orang normotensif. Jika hipertensi meningkat ke stadium berat atau maligna,
penanganan kelebihan Na ini menjadi sukar karena adanya peningkatan sekresi aldosteron yang
menetap.
4.Pada perjalanan penyakit hipertensi esensial ini, bisa terdapat gangguan inaktivasi
aldosteron oleh Hepar, bahkan pada stadium dini. Menurunnya “Metabolic Clearance” ini
nampaknya tak berhubungan dengan keseimbangan Natrium. Jika keadaan hiperaldosteronisme
relatif dan tak sesuai ini disertai intake garam tinggi, maka akan menggangu pengaturan tekanan
darah.
5.Jika penyakit hipertensi ini berlangsung terus sehingga Na tertimbun banyak pada dinding
arteri, Na ini memungkinkan bekerjanya Vasopresor, khususnya Angiotensin II, menyebabkan
pengaturan tekanan darah secara alamiah agak sukar.
Pada kebanyakan penyakit hipertensi, terutama yang ergolong renin rendah, terdapat sekresi
berlebihan satu atau lebih mineralokortikoid :
-Sekresi 18 Hydroxy DOC (yang diatur oleh produksi ACTH) meningkat.
-Steroid Adrenalis lainnya yaitu progesteron meningkat.
Karena Progesteron menghambat kerja penahanan Na oleh aldosteron pada tubulus ginjal,
dapat ditarik kesimpulan, bahwa peningkatan kadar progesteron plasma mencerminkan suatu
usaha untuk menghalang-halangi pengaruh sekresi aldosteron yang tak sesuai atau
mineralokortikoid lainnya yang kurang kuat.
Beberapa trace Element telah diduga sebagai penyebab berbagai bentuk Hipertensi :
Pada manusia,
Cadmium mempunyai presdisposisi terkumpul pada ginjal.
Jika diuretika digunakan untuk jangka waktu lama, maka penderita harus mendapat tambahan Mg
dan Zn.
Pengelolaan Diitetik :
1.Instruksi yg cermat ditekankan untuk diit rendah garam.
2.Ratio K : Na diit harus dipertahankan :
– tanpa terapi diuretik, intake K : Na = 1,5 : 1
-Tambahan K diperlukan jika penggunaan diuretika mengurangi cadangan K tubuh, seperti yg
diperlihatkan dengan merendahnya K serum.6
Diit rendah garam :
Tujuan : Membantu menghilangkan retensi garam/air didalam jaringan tubuh dan menurunkan
tekanan darah pada Hipertensi.

Syarat-syarat :
1.Cukup energi, Protein, Mineral dan Vitamin
2.Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit
3.Jumlah Na yang diperbolehkan disesuaikan dengan berat tidaknya retasi garam / air dan atau
Hipertensi
Diit rendah garam ini diberikan kepada : Penderita dengan udem dan atau Hipertensi
-Penyakit Kegagalan Jantung (Decompensation Cordis)
-Cirrhosis Hepatis
-Penyakit ginjal tertentu
-Toksemia pada kehamilan
-Hipertensi Esensial
Diit rendah garam I (200-400 mg Na) untuk penderita dengan udem, Ascites dan atau
Hipertensi berat Diit rendah garam II (600-800 mg Na) untuk penderita dengan udem, Ascites
dan tau Hipertensi tidak terlalu berat
Diit rendah garam III (1000-1200 mg Na) untuk penderita dengan udem dan atau Hipertensi
ringan.
Makanan biasa rata-rata mengandung 2800-6000 mg Na/hari yang ekivalen dengan 7- 15 NaCl.
Sebagian besar Na berasal dari garam dapur dan bahanh makanan yang mengandung Na tinggi.
Makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan
Golo
ngan
Bahan
Makanan
Makanan yang boleh diberikan Makanan yang tidak boleh diberikan
Sumber
Hidrat
Arang

Sumber
Protein
Hewani

Beras, bulgur, kentang, singkong,
terigu, tapioka, hunkwee, gula,
makanan yang diolah dr bahan
makanan tersebut tanpa garam dapur
dan soda, seperti: makaroni, mie,
bihun, roti, biskuit, kue kering dsb.

Dagingdanikanmaksimum100gram
sehari; telur 1 butir sehari, susu
maksimum 200gr/hari.

Roti, biscuit dan kue-kue yang dimasak
dengan garam dapur dan atau soda
Otak, ginjal, lidah, sardin, keju, daging, Ikan
dan telur yg diawet dengan ga
ram dapur, seperti: daging asap, ham,
bacon, dendeng, abon, ikan asin, ikan
kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin,
telur pindang, dsb. 7

Sumber
Protein
Nabati

Sayuran

Buah-
buahan

Lemak
Bumbu-
bumbu

Miinuman

Semua kacang2 an dan hasilnya
yang diolah dan dimasak tanpa
garam.

Semuasayuransegar;sayuranSayuran
ygdiawettanpagaramdapur
NaBenzoasdanSoda.

Semua buah-buahan segar; buahbuahan yang diawett tanpa garam
dapur, Na Benzoas dan soda.

Minyak, margarin tanpa garam
Margarin, mentega tanpa garam.

Semua bumbu2 segar dan kering
yang tidak mengandung soda
Garam dapur dan lain ikatan Na
Teh, kopi, minuman botol ringan.

Keju kacang tanah dan semua kacang2an
dan hasilnya yang dimasak dengan garam
dapur dan lain ikatan Na
Sayuran yg diawet dengan garam dapur dan
lain ikatan Na, seperti sayuran dalam
kaleng, sawi asin, asinan, acar, dsb.

Buah2an yg diawet dengan Garam dapur
dan lain ikatan Na.

Margarin dan mentega biasa.
Garam dapur, “Baking Pow-
der soda kue, vetsin dan bumbu yg
mengandung garam dapur, seperti: kecap,
terasi , maggi, tomato kecup, petis, tauco.

Coklat

Keterangan : Rasa makanan dapat dipertinggi dengan menggunakan bumbu lain yang tidak
mengandung Na seperti gula, cuka, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, salam dsb.
Makanan yang dikukus, ditumis, digoreng, dipanggang lebih enak daripada makanan yang
direbus.
Daftar kadar Na dan K beberapa bahan makanan (per 100 gram) :
Bahan
Makanan
Na (mg K (mg) Bahan Makanan Na (mg) K (mg)
Crackers
Cornedbeef
Keju
Kejukacang
tanah
Daunpepaya
muda
Peterseli
Pisang
710
1250
1250

607
16
28
18
330
100
100

760
652
900
435
Susupenuhcair
Susupenuhtepung
Kelapa

Margarin
Bubukcoklat
Garamdapur
Morton’ssalt
36
380
7

987
500
38758
100
150
1200
555

23
1000
4
493008
C.Kegagalan Jantung (Cardiac Failure=Decompensatio Cordis)
Kegagalan jantung (payah jantung) yaitu istilah yang ditujukan kepada kegagalan miokardium
yang diperlihatkan oleh berbagai keluhan dan tanda-tanda klinik akibat penyakit dasarnya.
Dalam keadaan ini Cardiac Output tak memenuhi kebutuhan tubuh.
Berkurangnya cardiac Output pada payah jantung menyebabkan penurunan “Renal Blood Flow”
dan “Glomerular Filtration Rate). Perubahan2 dalam Hemodinamik ginjal ini dihubungkan dengan
Retensi Natrium dan air . Meningkatnya volume darah sering dijumpai pada payah jantung yaitu
meningkat sebanyak 10-20% pada payah jantung sedang-berat sampai 30-50% pada payah
jantung berat atau Refrakter. Sebagai tambahan volume cairan ekstravaskuler bertambah
akibat meningkatnya tekanan kapiler.
Pengelolaan diitetik :
Pada umumnya tindakan ditujukan kepada meningkatnya Cardiac Output atau menurunnya
kerja jantung.
Pembatasan Natrium merupakan salah satu cara yang penting dalam pengobatan payah jantung.
Obat-obat diuretika menyebabkan kehilangan K, Mg dan Zn melalui urine. Oleh karena itu
keseimbangan mineral2 ini perlu diperhatikan. Demikian pula obat digitalis bisa menyebabkan
Hipokalemia .
Tambahan : PJK (penyakit jantung koroner) atau PJI (penyakit jantung iskemik) meliputi
sindrom klinik akibat kegagalan arteri koronaria mengsuplai darah yang cukup ke miokardium.
Dalam istilah ini termasuk Infark Miokard , Angina Pectoris dan ” Sudden Death ” (kematian
mendadak) tanpa infark.
Dalam fase akut penyakit jantung, infark miokard, gagal jantung kongestif, modifikasi diitetik
diperlukan.
Energi :
Pengurangan energi makanan selama beberapa hari setelah serangan jantung dianjurkan,
apalagi pada penderita yang gemuk.
Bentuk makanan : Pada tahap permulaan bentuk makanan lunak atau mudah dicerna,
mencegah digunakannya tenaga untuk makan.
Diit pada penyakit jantung
Tujuan :
1.Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan jantung
2.Menurunkan berat badan bila penderita terlalu gemuk
3.Mencegah / menghilangkan penimbunan Natrium dan air.
Syarat-syarat :
1.Energi rendah, terutama pada penderita yang terlalu gemuk
2.Protein dan Lemaksedang9
3.Cukup Vitamin dan Mineral
4.Rendah garam bila ada hipertensi dan atau udem
5.Mudah dicerna, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas
6.Porsi kecil dan diberikan sering
Macam-macam diit dan indikasi pemberiannya :
Diit Jantung I :
Diberikan kepada penderita dengan infark miokard akut atau gagal jantung kongestif berat.
Diberikan berupa 1 – 1,5 liter cairan sehari selama 1 – 2 hari pertama bila penderita dapat
menerimanya.
Makanan ini sangat rendah energi (835 Cal).
Diit Jantung II :
Diberikan berangsur dalam bentuk lunak, setelah fase akut dapat di atasi. Menurut beratnya
Hipertensi atau Udem yang menyertai penyakit, makanan diberikan sebagai Diit Jantung II
Rendah Garam. Makanan ini rendah energi (1325 Cal),Protein, Thiamin.
Diit Jantung III :
Diberikan sebagai makanan perpindahan dari diit Jantung II
atau kepada penderita penyakit jantung tidak terlalu berat. Makanan diberikan dalam bentuk
mudah cerna berbentuk lunak atau biasa. Makanan ini rendah energi (1756 Cal), tetapi cukup
zat2 gizi lainnya, diberikan sebagai diit jantung III rendah garam.
Diit Jantung IV :
Diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diit Jatung III atau kepada penderita penyakit
jantung ringan. Diberikan dalam bentuk biasa. Menurut beratnya Hipertensi atau Udem yang
menyertai penyakit, makanan diberikan sebagai Diit Jantung IV Rendah Garam. Makanan ini
cukup energi dan zat2 gizi.
Nilai Energi : 2023 Cal.10
Makanan yang boleh dan tidak boleh diberikan :
Golo
ngan
Bahan
Makanan
Makanan yang boleh diberikan Makanan yang tidak boleh diberikan
Sumber
Hidrat
Arang

Sumber
Hewani

Sumber
Protein
Nabati

Sumber
Lemak

Sayuran

Buah-
buahan
Bumbu-
bumbu

Minuman
Beras, bulgur, singkong, talas,
kentang, makaroni, mie, bihun,
roti, biskuit, tepung2an, gula.

Daging sapi kurus, ayam, bebek
terbatas.

Kacang-kacangan kering, mak
Simum 25g sehari; tahu, tempe
dan oncom.

Minyak, margarin, mentega
sedapat mungkin tidak digunakan
untuk menggoreng, kelapa,
santan encer dalam jumlah
terbatas.

Sayuran yg tidak mengandung
gas: bayam, kangkung, buncis,ka
cang panjang, tauge, labu siam
oyong, tomat, wortel, dsb.

Semua buah :nangka, adpokat
hanya diberikan dalam jumlah
terbatas.

Bumbu dapur, seperti:pala,
kayumanis, asam, gula, garam.

Tehencer,coklat,sirop,susu
dalamjumlahterbatas.
Kue-kue yg terlalu manis
Dan gurih, seperti: “cake”
tart, dodol dsb.

Semua daging berlemak, ham, ikan,tel

Goreng-gorengan,santan kental.

Sayuran yang menimbulkan
agas, seperti: kol, sawi, lobak.

Lombok dan bumbu lain yg
merangsang.

Kopi, the kental, minuman
yg mengandung soda dan alkohol11
DAFTAR PUSTAKA
1. DAVIDSON SS, PASSMORE R., BROCK JF and TRUSWELL AS. 1975 Human Nutrition
and Dietetic.ELBS and Churchhill Livingstone, 6th ed, pp 535-542
2. DICKERSON JWT and LEE HA (eds)Nutrition in the Clinical Management of Disease.
Edward Arnold, Ltd, London, 1978, pp 332-346, 349-372
3. WEINSIER, RL and BUTTERWORTH CE Handbook of Clinical Nutrition.The CV Mosby
Co., Louis, 1981, pp 91-113.
4. BUKU PENUNTUN DIET RSCM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s