PERBANDINGAN ANTARA PENGARUH LAYANAN INFORMASI DAN KONSELINGKELOMPOK TERHADAP SIKAP TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

PERBANDINGAN ANTARA PENGARUH LAYANAN INFORMASI DAN KONSELING
KELOMPOK TERHADAP SIKAP TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
baca selengkapnya
ABSTRAK
Siswa SMP memerlukan informasi yang benar dan terarah mengenai Kesehatan
Reproduksi Remaja (KRR). Terdapat beberapa metode penyampaian informasi KRR di
antaranya adalah layanan informasi dan konseling kelompok. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui perbandingan antara layanan informasi dan konseling kelompok terhadap sikap
tentang KRR.
Jenis penelitian ini adalah Quasy Experiment menggunakan pretest and posttest group
design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa Kelas VIII SMPN 2 Kauman Ponorogo.
Sampel adalah siswa Kelas VIII SMPN 2 Kauman ponorogo yang bersedia diteliti dan
mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Dengan teknik cluster, diperoleh sampel sebesar 120
siswa. Data didapatkan dari nilai pretest dan posttest masing-masing kelompok dengan
menggunakan instrumen berupa kuesioner. Teknik analisis data untuk mengetahui pengaruh
layanan informasi dan konseling kelompok terhadap sikap tentang KRR menggunakan Paired
Sample T-Test. Perbandingan pengaruh antara layanan informasi dengan konseling kelompok
terhadap sikap tentang KRR diuji dengan Independen Sample T-Test.
Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi p=0,000 berarti bahwa ada pengaruh
layanan informasi terhadap sikap tentang KRR, demikian halnya dengan konseling kelompok
nilai signifikansi p=0,410, berarti tidak ada perbedaan signifikan di antara kedua perilaku
tersebut.
Kesimpulan dari hasil penelitian adalah ada pengaruh layanan informasi terhadap sikap
tentang KRR, ada pengaruh konseling kelompok terhadap sikap tentang KRR, dan tidak ada
perbedaaan pengaruh layanan informasi dan konseling kelompok terhadap sikap tentang KRR
pada siswa Kelas VIII SMPN 2 Kauman Ponorogo.
Kata Kunci : Layanan Informasi, Konseling Kelompok, Sikap, KRR.
Telepon: 081556432775, e-mail: ayesha_midwife@yahoo.co.id
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, remaja masih sering menemui kesulitan untuk mendapatkan hak
reproduksi mereka, yaitu hak akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi,
termasuk informasi mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Bukti ketidaktahuan
remaja tentang KRR ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan seputar organ reproduksi,
perilaku seks saat pacaran, Infeksi Menular Seksual (IMS), Kehamilan Tak Dikehendaki
(KTD), kontrasepsi, pelecehan seksual, homoseksual sampai masalah kepercayaan diri,
seringkali dilontarkan remaja kepada Youth Center milik Perkumpulan Keluarga Berencana Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 8
Indonesia (PKBI). Yahya Ma’shum (2005), Humas PKBI, menyatakan bahwa isi pertanyaan
tersebut merefleksikan kurangnya akses remaja pada informasi kesehatan reproduksi.
Pada bulan September 2004, Synovate Research mengadakan penelitian serupa di 4
kota (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan) melibatkan 450 responden usia 15-24 tahun,
hasilnya 65% informasi seks mereka dapatkan dari kawan, sedangkan 35% dari film porno
(Kartika, 2005). Tahun 1998 responden survei remaja di empat provinsi memperlihatkan sikap
yang sedikit berbeda dalam memandang hubungan seks di luar nikah. Ada 2,2% responden
setuju apabila laki-laki berhubungan seks sebelum menikah. Angka ini menurun menjadi 1%
bila ditanya sikap mereka terhadap perempuan yang berhubungan seks sebelum menikah.
Jika hubungan seks dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, maka responden setuju
menjadi 8,6%. Jika mereka berencana menikah, responden setuju kembali bertambah menjadi
12,5% (LDFEUI & NFPCB, 1999 dalam Darwisyah, 2005).
Sejauh ini berbagai upaya yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif telah
dilakukan untuk mengatasi masalah remaja ini. Upaya Komunikasi Informasi dan Edukasi
(KIE) merupakan komponen promotif dan preventif. Pelayanan KRR khususnya pelayanan
medik dan rujukannya merupakan komponen kuratif (Depkes RI, 1995). Perlu kerjasama lintas
program dan lintas sektoral untuk menangani masalah ini. Sebenarnya akses informasi KRR
dapat diperoleh remaja melalui pendidikan formal di sekolah maupun informal melalui orang
tua, teman bergaul, media dan sebagainya (BKKBN, 2003).
Selain dari guru maupun dari orang tua, informasi KRR ini juga dapat diperoleh siswa
dari tenaga kesehatan. Bidan bisa memberikan layanan informasi atau bahkan memberikan
konseling kelompok terhadap para siswa. Kedua teknik penyampaian informasi ini masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dimungkinkan kedua teknik ini mempunyai
pengaruh yang berbeda terhadap siswa.
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh layanan informasi terhadap sikap tentang KRR
2. Mengetahui pengaruh konseling kelompok terhadap sikap tentang KRR pada siswa Kelas
VIII di SMPN 2 Kauman Ponorogo.
3. Mengetahui perbandingan pengaruh layanan informasi dengan konseling kelompok
terhadap sikap tentang KRR pada siswa Kelas VIII di SMPN 2 Kauman Ponorogo.
BAHAN DAN METODE
Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 13-17 Mei 2008 di SMPN 2 Kauman
Ponorogo ini merupakan penelitian quasy experiment menggunakan pretest and postest group
design. Populasi penelitian adalah semua siswa SMPN 2 Kauman Ponorogo Kelas VIII,
dengan sampel siswa Kelas VIII SMPN 2 Kauman Ponorogo yang bersedia diteliti dan
mengikuti seluruh rangkaian kegiatan (pretest, layanan informasi/konseling kelompok,
posttest). Dengan teknik cluster diperoleh sampel sebesar 120 siswa dengan perincian 60
siswa diberikan intervensi berupa layanan informasi dan 60 siswa diberikan intervensi berupa
konseling kelompok. Intervensi tersebut dilaksanakan masing sebanyak 3 kali pertemuan
dengan durasi 60 menit tiap pertemuan. Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 9
Data didapatkan dari nilai pretest dan posttest masing-masing kelompok dengan
menggunakan instrumen berupa kuesioner berupa pertanyaan tertutup mengenai sikap
tentang KRR yang telah melalui uji validitas dan reabilitas. Teknik analisis data untuk
mengetahui pengaruh layanan informasi terhadap sikap tentang KRR menggunakan Paired
Sample T-Test. Demikian juga pengaruh konseling kelompok terhadap sikap tentang KRR diuji
dengan Paired Sample T-Test. Sedangkan perbandingan pengaruh antara layanan informasi
dengan konseling kelompok terhadap sikap tentang KRR diuji dengan Independen Sample TTest.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Layanan Informasi terhadap Sikap tentang KRR.
PreLayin
66.4067.1070.4072.4073.7074.3075.0076.3076.9077.6078.9079.6080.3080.9081.6082.2082.9083.5084.2084.9085.5086.6086.8088.2090.10
Frequency
6
4
2
0
PreLayin
Gambar 1. Nilai Pretest Sikap tentang KRR pada Kelompok Layanan Informasi
Siswa SMPN 2 Kauman Tahun 2008
Sikap tentang KRR sebelum dilakukan layanan informasi sebagai berikut: responden
dengan nilai 82,90 sebanyak 7 siswa (11,7%), nilai 74,30 sebanyak 6 siswa (10,00%), nilai
77,60 sebanyak 5 siswa (8,3%), yang selengkapnya tampak pada Gambar 1. Sedangkan
sikap tentang KRR sesudah dilakukan layanan informasi sebagai berikut: responden dengan
nilai 91,40 sebanyak 6 siswa (11,7%), nilai 84,80 sebanyak 4 siswa (6,7%), nilai 83,50
sebanyak 4 siswa (6,7%), yang selengkapnya tampak pada Gambar 2. Paired Sample T-Test
menghasilkan nilai signifikasi 0,000 (<0,05), berarti Ho ditolak yaitu ada pengaruh layanan
informasi terhadap sikap tentang KRR. Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 10
PostLayin
72.40 75.00 76.90 78.90 80.30 81.60 82.90 84.20 84.90 86.80 88.20 90.10 90.80 92.70 96.70
Frequency
6
5
4
3
2
1
0
PostLayin
Gambar 2 Nilai Posttest Sikap tentang KRR pada Kelompok Layanan Informasi
Siswa SMPN 2 Kauman Tahun 2008
Prayitno dan Erman Amti (2004) menyatakan bahwa layanan informasi dapat membekali
individu dengan pengetahuan dan memungkinkan individu tersebut dapat menentukan arah
hidupnya sebab dengan berdasarkan informasi tersebut individu diharapkan dapat membuat
rencana dan keputusan serta bertanggung jawab terhadap keputusan dan rencana yang
dibuat itu. Jadi dengan adanya layanan informasi tentang KRR ini, bekal informasi siswa
berupa pengetahuan tentang KRR ini dapat membantunya menentukan rencana dan
keputusan yang tepat perihal KRR serta dapat bertanggung jawab terhadap keputusan yang
dibuatnya itu.
Penelitian serupa dilakukan oleh Fransisca Iriani dan M. Nisfiannor (2004) dalam
Amiruddin (2007). Penelitian tersebut menyatakan bahwa ada perbedaan sikap terhadap
hubungan seks pranikah antara remaja yang diberi penyuluhan dan yang tidak diberi
penyuluhan kesehatan reproduksi remaja (KRR). Pratama (2006) mengatakan bahwa remaja
harus diberikan penyuluhan (layanan informasi) tentang kesehatan reproduksi yang
menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi agar mereka memiliki pengetahuan, sikap
dan perilaku positif terhadap kesehatan reproduksinya. Sedangkan Een Sukaedah (2001)
dalam penelitiannya mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap terhadap KRR
menyatakan bahwa faktor pengetahuanlah yang paling dominan berhubungan dengan sikap
KRR.
Hubungan layanan informasi, sikap dan remaja dapat digambarkan sebagai berikut:
respon batin terhadap suatu objek dalam penelitian adalah sikap dan pemahaman terhadap
pentingnya KRR yang diperoleh dari penginderaan. Upaya ini diteruskan ke otak untuk
diteruskan ke otak untuk diproses melalui impuls-impuls saraf. Stimulus akan terus diingat dan
memorinya lama bila stimulus tersebut diberikan berulang-ulang. Stimulus yang dimaksud Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 11
berupa layanan informasi. Layanan informasi memberikan informasi yang seluas-luasnya
sehingga peserta memiliki pengetahuan yang memadai dan kemudian bersikap positif
terhadap obyek yang dibicarakan (KRR). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa stimulasi
berupa layanan informasi mampu meningkatkan pemahaman terhadap sikap tentang KRR.
Pengaruh Konseling Kelompok terhadap Sikap tentang KRR
Sikap tentang KRR sebelum dilakukan konseling kelompok sebagai berikut: responden
dengan nilai 82,20 sebanyak 4 siswa (6,7%), nilai 78,30 sebanyak 4 siswa (6,7%), nilai 76,30
sebanyak 4 siswa (6,7%), yang lebih lengkap tampak pada Gambar 3. Sedangkan sikap
tentang KRR sesudah dilakukan konseling kelompok sebagai berikut: responden dengan nilai
84,80 sebanyak 5 siswa (8,3%), nilai 88,80 sebanyak 4 siswa (6,7%), nilai 95,39 sebanyak 3
siswa (5%), yang selengkapnya tampak pada Gambar 4.
Paired Sample T-Test menghasilkan nilai signifikasi 0,000 (0,05), berarti Ho diterima artinya tidak ada perbedaan
yang signifikan antara pengaruh layanan informasi dengan konseling kelompok terhadap sikap
tentang KRR. Pengukuran posttest pada kedua kelompok menunjukkan hasil yang tidak
signifikan. Ini berarti layanan informasi maupun konseling kelompok sama-sama efektif dalam
memberikan pengaruh positif terhadap sikap tentang KRR.
Hal di atas mungkin disebabkan oleh materi KRR yang menarik bagi siswa SMP. Ini bisa
dilihat dari antusiasme para siswa saat mengikuti layanan informasi maupun konseling
kelompok. Rasa senang dan rasa tertarik terhadap materi KRR ini mempermudah
pemahaman siswa terhadap nformasi KRR. Ini berpengaruh terhadap peningkatan
pengetahuan mereka terhadap KRR.
Pada masing-masing jenis layanan memungkinkan para responden mendapatkan
informasi KRR yang memadai. Bedanya, layanan informasi diberikan melalui metode
ceramah, dan tanya jawab sehingga peserta pada kelompok ini dapat secara langsung
menanyakan informasi yang belum jelas maupun yang belum dimengerti. Sedangkan pada
konseling kelompok, para peserta dapat memperoleh informasi dari pendapat, masalahmasalah beserta alternatif pemecahan masalahnya dari peserta lain maupun dari konselor.
Informasi baru yang memadai dapat memberikan kontribusi besar dalam perubahan sikap.
Teori Rosenberg yang dikenal dengan teori affective-cognitive consistency menyatakan
bahwa hubungan komponen afektif dan kognitif bersifat konsisten, maka apabila komponen
afektif berubah maka komponen kognitif juga berubah. Sebaliknya bila komponen kognitif
berubah maka komponen afektif juga berubah (Walgito, 2003). Menurut Azwar (2003), para
ahli psikologi sosial banyak yang beranggapan bahwa ketiga komponen sikap (cognitive,
affective, conative) selaras dan konsisten, karena apabila dihadapkan pada satu obyek sikap
yang sama maka ketiga komponen itu harus mempolakan sikap yang seragam. Dan apabila
salah satu saja di antara ketiga komponen sikap tidak konsisten dengan yang lain, maka akan
terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya perubahan sikap sedemikian rupa
sehingga konsistensi itu tercapai kembali. Prinsip ini banyak dimanfaatkan dalam manipulasi
sikap guna mengalihkan bentuk sikap tertentu menjadi bentuk yang lain. Adapun manipulasi
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah layanan informasi dan konseling kelompok.
Berdasarkan hasil eksperimen Hovland dan Weiss dalam Gerungan (2002) yang
menyelidiki pengaruh penyebaran berita yang isinya sama oleh sumber pemberitaan yang Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 14
berbeda, maka walaupun isi komunikasi sama apabila sumbernya dianggap lebih dapat
dipercaya maka pemberitaan itu lebih dapat diterima daripada apabila dikomunikasikan oleh
sumber yang dianggap tidak dapat dipercayai. Dalam penelitian ini intervensi baik yang berupa
layan informasi maupun konseling kelompok dilakukan oleh peneliti yang juga berprofesi
sebagai bidan. Siswa-siswi SMPN 2 Kauman Ponorogo memiliki rasa percaya pada penulis.
Hal ini ditunjukkan dengan antusiasme kedua kelompok terhadap materi yang dibicarakan dan
keterbukaan mereka untuk menanyakan hal-halyang belum dimengerti dan keberanian
mereka mengungkapkan masalah KRR yang sedang dihadapi.
Eksperimen dari Murphy dan Newcomb dalam Gerungan (2002) menyatakan bahwa
perubahan sikap yang paling berhasil terjadi pada orang-orang yang mempunyai sikap awal
bimbang dan ragu-ragu terhadap obyek sikap tersebut dan kemudian orang-orang tersebut
diberi komunikasi tertentu. Dalam penelitian ini, sebelum dilakukan intervensi, siswa-siswi
SMPN 2 Kauman Ponorogo memiliki sikap yang masih ragu-ragu terhadap KRR, yang terlihat
dari hasil pretest sikap. Selain itu sebelum melakukan intervensi, peneliti juga menanyakan
sikap mereka terhadap KRR secara lisan. Dari pertanyaan lisan ini, sebagian dari mereka
malu untuk membicarakan masalah KRR terlebih bila harus membicarakannnya dengan orang
tua atau guru. Sebenarnya mereka suka dan ingin tahu lebih jauh tentang KRR tapi tidak tahu
menyakannnya kepada siapa. Pemberian intervensi berupa layanan informasi dan konseling
kelompok memberikan komunikasi yang jelas dan tegas mengenai obyek sikap (KRR). Objek
yang dahulu dipandang dengan sikap yang bimbang kini menjadi lebih jelas. Sikap yang belum
mendalam relatif tidak bertahan lama sehingga akan mudah berubah (Walgito, 2003).
Pada kelompok layanan informasi, siswa langsung menanyakan hal-hal yang tidak ia
ketahui pada peniliti. Bahkan ada siswa yang membuat kesimpulan sendiri bahwa ia
menajwab kurang tepat pertanyaan sikap yang ada dalam kuesioner setelah ia mendapat
pengetahuan tentang materi tersebut. Pernyataan siswa yang diungkapkan secara terbuka
dalam forum layanan informasi ini dapat mempengaruhi sikap siswa yang lain.Pada kelompok
konseling kelompok penekanannya adalah pada pemecahan masalah KRR. Masalah-masalah
yang diungkapkan siswa belum mencakup seluruh materi KRR. Hal ini dimungkinkan dapat
berpengaruh terhadap sikap terhadap keseluruhan materi KRR.
Jadi dapat disimpulkan bahwa layanan informasi dan konseling kelompok memberikan
efektifitas yang sama dalam merubah sikap tentang KRR disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1) materi KRR yang menarik bagi kedua kelompok, 2) kedua metode sama–sama menambah
pengetahuan sehingga mengakibatkan perubahan sikap, 3) kedua metode dapat memberikan
kejelasan dan ketegasan tentang KRR, 4) kedua metode diberikan oleh peneliti yang
berprofesi sebagai bidan yang dipercaya oleh siswa, yang mempermudah perubahan sikap, 5)
pada kelompok layanan informasi ada pernyataan sikap siswa secara terbuka, yang dapat
mempengaruhi siswa lain, 6) pada kelompok konseling kelompok, masalah yang diungkapkan
belum mencakup seluruh materi KRR sehingga berpengaruh terhadap sikap tentang KRR.
SIMPULAN DAN SARAN
Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh layanan informasi dan konseling kelompok
terhadap sikap tentang KRR pada siswa Kelas VIII di SMPN 2 Kauman Ponorogo. Akan tetapi Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 15
tidak ada perbedaan antara pengaruh layanan informasi dan konseling kelompok terhadap
sikap tentang KRR. Hal ini menunjukkan bahwa layanan informasi dan konseling kelompok
sama-sama efektif untuk meningkatkan sikap tentang KRR pada siswa.
Saran yang diajukan bagi profesi bidan khususnya dan tenaga kesehatan lainnya,
layanan informasi dan konseling kelompok ini dapat digunakan sebagai alternatif media
promosi kesehatan untuk meningkatkan sikap tentang KRR pada para siswa. Selain itu perlu
juga kerjasama antara pihak sekolah dan tenaga kesehatan untuk menyelenggarakan
pelatihan bagi guru BK (Bimbingan Konseling) mengenai KRR, yang bertujuan agar guru BK
dapat memberikan layanan informasi dan konseling mengenai KRR dengan lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, 2007. Tabel Sintesa: Analisis Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja.
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/tabel-sintesa/
Arikunto, S., 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Azwar, S., 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Offset.
BKKBN, 2003. Petunjuk Teknis Pengembangan Advokasi Kesehatan Reproduksi Remaja dan
Hak-hak Reproduksi. Surabaya
Depkes RI dan WHO, 2003. Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Jakarta
Depkes RI, 1995. Pola Pembinaan Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Pembinaan
Kesehatan Keluarga. Jakarta
Ghozali, 2001. Aplikasi Analisis Multivariat dengan SPSS. Semarang: Undip.
Henderson, 2005. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.
Kurniasari, 2006. Pengaruh Konseling Kelompok Kesehatan Reproduksi Remaja terhadap
Sikap Remaja dalam Menghitung Siklus Menstruasinya. Karya Tulis Ilmiah untuk
Diploma Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Surabaya.
Notoatmodjo, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsi-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurihsan dan Sudianto, 2005. Manajemen Bimbingan dan Konseling di SMP. Jakarta:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s