Hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN
REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO
PADA REMAJA
ABSTRACT
Everyone has experienced to be adolescence. At this period, it will experience a
change process both biological and psychological. The change influenced by
society, close friend and mass media. The level of this research is an level of
result, related to physical prosperity, bouncing and contact social, not only face
from disease or weakness in all matter of related to health reproduce, function and
its process.baca selengkapnya
Adolescent attitude in this research is an attitude which is done to avoid the sexual
contagion. It is a disease which is resulted by free sexual that happened of
adolescent. Therefore, sex education to adolescent how to take care the
reproduction organ to be healthy. Venereal diseases have been recognized, but
after found a new disease the term changed to be sexual of transmitted Disease
(STD) or sexual sectional. This research is analytic descriptive with a cross
sectional research. It means that the data are taken at the same time.
This research is done on October 2000 in SMUN 1 Pleret Bantul. The population is
student of class III SMUN 1 Pleret Bantul amount 467 samples.
The conclusion from this research is :
1. the result of this research is counted by 68 % adolescent categorized as
sexactive.
2. there is no relation meaning between levels of reproduction health of
knowledge with the sexual contagion. From the statistical test with the level
of mistake is a 5 % (0,05) and P value is 0,673, so Ho is refused
3. there is no relation meaning between adolescent attitudes with the sexual
contagion, from the statistical test with the level of mistake is a 5 % (0,05)
and P value is 1000, so Ho is refused
Key Words : Reproduction health, risk sexual behavior
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-Undang No.23 Tahun 1992 mendefinisikan bahwa
kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Sedangkan reproduksi menurut Koblinsky adalah kemampuan perempuan
hidup dari masa adolescence/ perkawinan tergantung mana yang lebih
dahulu, sampai dengan kematian, dengan pilihan reproduktif, harga diri dan
proses persalinan yang sukses serta relatife bebas dari penyakit ginekologis
dan risikonya. Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang
sempurna baik fisik, mental, sosial dan lingkungan serta bukan sematamata terbebas dari penyakit/kecacatan dalam segala aspek yang
berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya (Melyana,
2005). Dengan adanya pengertian kesehatan reproduksi menurut WHO dan
Undang-Undang Kesehatan maka kita harus menjaga segala sesuatu yang
berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya sehingga
akan tercipta suatu perilaku seksual yang sehat.
Pemahaman masyarakat tentang seksualitas masih amat kurang
sampai saat ini. Kurangnya pemahaman ini amat jelas yaitu dengan adanya
berbagai ketidaktahuan yang ada di masyarakat tentang seksualitas yang
seharusnya dipahaminya. Sebagian dari masyarakat masih amat percaya
pada mitos – mitos yang merupakan salah satu pemahaman yang salah
tentang seksual. Pemahaman tentang perilaku seksual remaja merupakan
salah satu hal yang penting diketahui sebab masa remaja merupakan masa
peralihan dari perilaku seksual anak – anak menjadi perilaku seksual
dewasa. Menurut Pangkahila, kurangnya pemahaman tentang perilaku
seksual pada masa remaja amat merugikan bagi remaja itu sendiri
termasuk keluarganya, sebab pada masa ini remaja mengalami
perkembangan yang penting yaitu kognitif, emosi, sosial dan seksual.JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
Perkembangan ini akan berlangsung mulai sekitar 12 sampai 20 tahun.
Kurangnya pemahaman tersebut disebabkan oleh berbagai faktor antara
lain : adat istiadat, budaya, agama, dan kurangnya informasi dari sumber
yang benar. Hal ini akan mengakibatkan berbagai dampak yang justru amat
merugikan kelompok remaja dan keluarganya (Soetjiningsih, 2004).
National Surveys of Family Growth pada tahun 1988 melaporkan
bahwa 80% laki – laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual
selama masa pubertas dan 20% dari mereka mempunyai empat atau lebih
pasangan. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15 – 19 tahun
melakukan hubungan seksual pada masa remaja, sedangkan jumlah laki –
laki yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat daripada
perempuan. Di Amerika Serikat setiap menit kelompok remaja melahirkan
satu bayi dan 50 % dari mereka melahirkan anaknya dan sisanya tidak
melanjutkan kehamilannya. Menurut Craig, kadang – kadang remaja
menemui pertentangan dari orang tua yang dapat menimbulkan konflik,
namun orang tua dalam melalui proses tersebut berusaha meminimalkan
konflik dan membantu anak remajanya untuk mengembangkan kebebasan
berpikirnya dan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri. (Soetjiningsih,
2004).
Masturbasi atau onani merupakan salah satu aktivitas yang sering
dilakukan oleh para remaja. Dari laporan penelitian yang dilaporkan oleh
SIECUS ( Sex Information and Education Council of the United States )
menunjukkan bahwa 88% remaja laki – laki pada umur 16 tahun melakukan
masturbasi dan remaja perempuan sebanyak 62%. Frekuensinya makin
meningkat sampai pada masa sesudah pubertas. Mereka mempunyai daya
tarik seksual terhadap lawan jenis yang sebaya. Masturbasi ini dilakukan
sendiri – sendiri dan juga dilakukan secara mutual dengan teman sebaya
sejenis kelamin, tetapi sebagian dari mereka juga melakukan masturbasi
secara mutual dengan pacar (Soetjiningsih, 2004).
Dari Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) yang
dilakukan pada tahun 2002-2003 didapatkan 2,4% atau sekitar 511.336
orang dari 21.264.000 jumlah remaja berusia 15-19 tahun dan 8,6% atau
sekitar 1.727.929 orang dari 20.092.200 remaja berusia 20-24 tahun yang
belum menikah di Indonesia pernah melakukan hubungan seks pra nikah
dan lebih banyak terjadi pada remaja di perkotaan (5,7%). Secara
keseluruhan persentase laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah
melakukan hubungan seks pra nikah lebih banyak dibandingkan wanita
dengan usia yang sama. Menurut hasil Survei BKKBN LDFE UI pada tahun
2002 di Indonesia terjadi 2,4 kasus aborsi per tahun dan sekitar 21 %
dilakukan oleh remaja (Widiastuti, 2005).
Penelitian Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan,
Depkes R.I tahun 1990 terhadap siswa-siswa di Yogyakarta menyebutkan
bahwa faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan
senggama adalah : membaca buku porno dan menonton film biru / blue film
adalah 49,2%. Motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama
suka (75,6%), kebutuhan biologis 14–18% dan merasa kurang taat pada
nilai agama 20–26%. Pusat studi kriminologi Universitas Islam Indonesia di
Yogyakarta menemukan 26,35 % dari 846 peristiwa pernikahan telah
melakukan hubungan seksual sebelum menikah yang mana 50 %
diantaranya menyebabkan kehamilan. Dari berbagai penelitian
menunjukkan perilaku seksual pada remaja ini mempunyai korelasi dengan
sikap remaja terhadap seksualitas (Soetjiningsih, 2004).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan
didapatkan data bahwa dari kelas 1,2 dan kelas 3 SMK Negeri 4 Yogyakarta
memiliki remaja akhir (usia 15-20 tahun) 674 siswa, tergolong berperilaku
baik akan tetapi ada beberapa remaja yang perilaku seksualnya dapat
dikatakan buruk. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu status
ekonomi yang rendah, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang
kurang, pengaruh penyebaran rangsangan seksual (pornografi) melaluiJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
media massa seperti VCD, telpon genggam, internet dan lingkungan
pergaulan yang buruk sehingga karakter remaja dibentuk oleh lingkungan
sekitar.
II. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 4 September – 14 September 2006.
Sedangkan tempat penelitiannya di SMK Negeri 4 Yogyakarta.
B. Populasi dan sample
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti (Arikunto, 2006). Populasi
dalam penelitian ini adalah siswa sebanyak 1.510 di SMK Negeri 4
Yogyakarta. Dari jumlah populasi tersebut diperoleh sample sebanyak
257 siswa, dengan kriteria inklusi remaja yang berusia 14 – 24 tahun
dan tercatat aktif sebagai siswa di SMK Negeri 4 Yogyakarta.
2. Sampel
Pengambilan sample dengan berstrata, proporsional dan acak (stratified
proportional random sampling dari kelas 1 sebanyak 95 siswa, kelas 2
sebanyak 82 siswa dan kelas 3 sebanyak 80 siswa.
C. Teknik pengumpulan data
Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan
kuesioner pada responden. Pengumpulan data di SMK Negeri 4 Yogyakarta
dengan meminta kesdiaan siswa untuk mengisi kuesioner.
D. Instrumen penelitian
Indtrumen penelitian yang dunakan dalam peneloitian ini adalah kuesioner
tertutup yang disusun secara terstruktur yang berisi pertanyaan –
pertannyaan yang harus diisi oleh responden. Kuesioner untuk mengukurJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku tentang kesehatan
reproduksi.
E. Pengolahan dan Analisa data
Langkah-langkah dalam analisis data meliputi :
1. Editing : mengedit kuesioner yang telah diteliti.
2. Coding : memberi kode tertentu untuk setiap pertanyaan.
3. Tabulating : data nilai dikumpulkan dan dikelompokkan secara teliti dan
teratur ke dalam tabel.
4. Analiting : pengolahan data dengan menggunakan program SPSS.
III. HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 90 remaja akhir (usia 15-20
tahun) yang berdomisili di wilayah Kelurahan Keparakan Yogyakarta serta
masuk dalam kriteria menjadi responden. Karakteristik responden pada
penelitian ini meliputi : jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan orang tua
responden, yang ditampilkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di Wilayah
Kelurahan Keparakan Yogyakarta bulan Februari 2007
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Laki-laki
Perempuan
33
224
13
87
Total 257 100
Berdasarkan tabel 1 tersebut, dapat diketahui bahwa paling sedikit
responden dalam penelitian ini adalah laki – laki yaitu sebanyak 33JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
responden (13 %). Hal ini menunjukkan bahwa sedikit sekali responden
mempunyai karakter yang lebih mudah terangsang dan tertarik pada
persoalan seksualitas, dan secara tidak langsung mendorongnya untuk
lebih permissive dalam berperilaku seksual.
B. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja
1. Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi
Dari analisis data untuk tingkat pengetahuan kesehatan
reproduksi didapatkan skor minimum 5 dan skor maksimumnya 34.
Berdasarkan hasil tersebut maka pengetahuan remaja dikategorikan
menjadi tiga jenjang, yaitu tingkat pengetahuan kurang, cukup dan
baik. Pengetahuan baik = 76-100 %, cukup = 56-75 % dan kurang <56
%. Dengan batasan tersebut maka hasil pengukuran tingkat
pengetahuan meliputi pengetahuan baik adalah yang terbesar yaitu
sebanyak 134 responden (52 %), pengetahuan kurang adalah yang
terkecil yaitu sebanyak 23 responden (9 %) dan pengetahuan cukup
sejumlah 35 responden (39 %).
2. Perilaku Seksual
Distribusi perilaku seksual ditentukan oleh jumlah skor dari
setiap item pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya. Dari hasil
analisis data dapat dikemukakan skor minimum = 0 dan skor
maksimum = 7. Berdasarkan hasil tersebut maka perilaku seksual
remaja dikategorikan menjadi tiga jenjang yaitu perilaku kurang baik,
cukup baik, dan baik. Perilaku baik = 76-100 %, cukup 56-75 % dan
kurang ttabel (2,699 > 2,000) sehingga Ho
ditolak atau Ha diterima. Jadi ada pengaruh antara faktor pengetahuan
tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual. Nilai R square
(R
2
) sebesar 0,076, hal ini berarti bahwa 7,6 % dari perilaku seksual
remaja bisa dijelaskan oleh variabel pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi, sedangkan 92,4 % sisanya dijelaskan oleh variabel di luar
model. Hasil pengujian tersebut jug didukung dengan nilai probabilitas
(Sig.) = 0,008 lebih kecil daripada tingkat signifikansi yang telah
ditentukan, yaitu  = 0,05. Nilai probabilitas (Sig.) = 0,008 berarti Ha
diterima atau ada pengaruh antara faktor pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi terhadap perilaku seksual remaja.JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
Tabel 3. Pengujian Regresi Sederhana antara Faktor Pengetahuan
Kesehatan Reproduksi terhadap Perilaku Seksual Remaja di SMK
Negeri 4 Yogyakarta
Variabel B Nilai t Signifikansi
R
square
Faktor pengetahuan
kesehatan reproduksi 0,097 2,699 0,008 0,076
Sumber : hasil analisis data primer
Sebagian besar responden dalam penelitian ini memiliki
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang tergolong baik yaitu
sebanyak 47 responden (52,2 %). Seperti diungkapkan oleh Handayani
(2001) dalam penelitiannya, bahwa adanya pengetahuan tentang manfaat
sesuatu hal dapat mempengaruhi niat untuk ikut dalam suatu kegiatan.
Sehingga semakin baik pengetahuan responden tentang kesehatan
reproduksi maka akan semakin baik pula perilaku seksualnya.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ancok bahwa antara
pengetahuan dan perilaku sangat berkaitan erat. Pengetahuan akan segi
manfaat dan akibat buruk sesuatu hal akan membentuk sikap, kemudian
dari sikap itu akan muncul niat. Niat yang selanjutnya akan menentukan
apakah kegiatan akan dilakukan atau tidak. Sehingga semakin baik
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi maka semakin baik perilaku
seksualnya (Anggraeni, 2003). Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan
ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Dan diperkuat
oleh teori Green bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang
menentukan terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan merupakan
domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang. Dari
pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari olehJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan. (Notoadmodjo, 2003).
IV. KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan remaja akhir (usia 15 – 20
tahun) di SMK Negeri 4 Yogyakarta rata-rata mempunyai pengetahuan
tentang kesehatan reproduksi yang baik. Faktor pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi memberikan pengaruh terhadap perilaku seksual
remaja di SMK Negeri 4 Yogyakarta.JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA
http://www.skripsistikes.wordpress.com
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. dan Asrori, M. (2004) Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta : PT Bumi Aksara
Arikunto, S. (2005) Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Arikunto, S. (2006) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
Rineka Cipta
Azwar, S. (2004) Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Bawono, Anton (2006) Multivariate Analysis dengan SPSS. Jawa Tengah :
STAIN Salatiga Press
Dariyo, A. (2004) Psikologi Perkembangan Remaja. Bandung : Ghalia
Indonesia
Dianawati, A. (2004) Psikologi Seks untuk Remaja. Jakarta : Kawan Pustaka
Effendy, N. (1998) Dasar-dasar Keperawatan Masyarakat. Jakarta : EGC
Evelyn, C. (2002) Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia
Handajani, Y. S. (2001) Kehidupan Seksual Remaja Di Daerah Kumuh
Perkotaan Jakarta. Majalah Kesehatan Perkotaan No. 2 : 33-44
Muliani (2002) Pengaruh Penyuluhan terhadap Peningkatan Pengetahuan
Remaja tentang Seks Bebas. Skripsi tidak dipiblikasikan, Fakultas
Kedokteran, UGM : Yogykarta
Niken (2005) Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang Pornografi pada
Siswa-siswi di SMK Negeri 9 Surakarta. Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta :
UGM
Notoatmodjo, S. (1993) Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan. Yogyakarta : Andi Offset.
Notoatmodjo, S. (2003) Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s